Latest Post
Tampilkan postingan dengan label About SPY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About SPY. Tampilkan semua postingan
Sebelum KOMPUTER rumahan diciptakan, 4 orang ini sudah menjadi PERETAS
Hacker atau yang lebih dikenal sebagai Peretas atau pembajak di Indonesia, sudah ada bahkan sejak komputer rumahan diciptakan oleh para penemunya.
Pasti banyak yang mengira kalau hacker atau peretas baru ada dan aktif melancarkan serangannya sejak internet dan komputer diciptakan.
Padahal, menurut ListVerse, terdapat banyak kasus-kasus tentang pembajakan yang terjadi jauh sebelum komputer rumahan dibuat.
Berikut ini adalah para hacker yang sudah membajak dan melakukan peretasan jauh sebelum komputer diciptakan.
1. DAVID CONDON
David Condon pada tahun 1955 sudah melakukan peretasan terhadap telepon rumahan. Kala itu, dengan cara meniupkan sebuah suling atau semacam instrumen musik ke telepon yang ia genggam, terdapat sistem yang terbentuk dan dibaca oleh telepon itu.
Akhirnya, sistem telepon tersebut menganggap kalau David adalah karyawan dari perusahaan telepon dan ia bisa menelepon orang-orang yang ia mau secara gratis.
2. RABBITS
Virus komputer pertama yang ditemukan dalam sejarah komputer adalah Rabbits. Pada tahun 1969, seseorang memasukkan virus itu ke dalam sebuah komputer di sebuah universitas dan membuat seluruh komputernya mati.
Akhirnya, terdapat orang lain yang menirukan virus itu, dan menyebutnya sebagai Wabbit. Kala itu, ia meretas APRANET, versi lebih awal dari Internet.
3. RAY TOMLINSON
Orang pertama yang mengirimkan virus lewat email adalah Ray Tomlinson, ia juga lah orang yang pertama kali menciptakan fitur email dalam dunia maya.
Virus itu bernama Creeper, yang sebenarnya diciptakan oleh Bob Thomas, salah satu temannya.
4. STEVE JOBS dan STEVE WOZNIAK
Kalau kalian mendengar nama Steve Jobs dan Steve Wozniak, hal yang terlintas pada pikiran kalian adalah Apple. Yap, keduanya adalah pendiri dari perusahaan Apple.
Ternyata, dulu Wozniak pernah membaca majalah Esquire tentang peretasan telepon dan ia pun tertarik dan mengajak salah satu hacker telepon untuk ngobrol di rumahnya.
Akhirnya, ia belajar dari orang itu dan membuat sebuah alat bernama Blue Box, sebuah alat untuk meretas sistem telepon.
Akhirnya, ia memberi tahu Steve Jobs tentang hal ini, keduanya pun, sebagaimana diberitakan ListVerse, menjual blue box ke teman-teman satu kelasnya.
hai.grid.id
Fakta Para Hacker Indonesia yang Ditakuti Dunia
HACKER INDONESIA termasuk Hacker yang disegani dan diperhitungkan dimata dunia. Terlepas dari hal tersebut, Indonesia tergolong negara yang banyak melahirkan para hacker-hacker handal.
Para Hacker Indonesia tidak segan-segan dalam dalam melakukan aksinya walaupun bersinggungan dengan CyberCrime hingga menjelajah dunia.
FAKTA lain yang menjadikannya Hacker Indonesia diperhitungkan dimata dunia !!!
1. Ahli Membobol Situs Luar Negeri
Inilah salah satu alasan hacker Indonesia ditakuti dunia, karena mereka tidak segan segan membobol situs luar negeri.
Contohnya, Hacker Indonesia pernah membobol situs Malaysia akibat insiden bendera terbalik di acara SEA Games Kuala Lumpur 2017.
Selain itu, Hacker Indonesia juga pernah membobol situs resmi, boy group asal korea, BTS, pada 2017 silam
2. Cuma Otodidak
Tidak sedikit dari mereka yang hanya belajar otodidak tanpa kuliah.
Karenanya, tidak heran banyak hacker Indonesia yang masih muda tapi memiliki skill layaknya profesional.
Mereka mempelajarinya dari berbagai sumber terpercaya sendir tanpa belajar pada pendidikan formal. Mempelajari hacking lewat tutorial di internet, YouTube, dan buku.
3. Masih Muda
Indonesia memiliki hacker berbakat walaupun masih di usia muda, kemampuan mereka tidak kalah dengan hacker profesional.
Mereka mampu mengobrak abrik website mana pun hingga yang memiliki tingkat keaman yang paling sulit.
4. Negara Dengan Jumlah HACKER Terbanyak di Dunia
Ketua Indonesia Security Incident Respone Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII), Rudi Lumanto, mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan pertama sebagai negara dengan jumlah hacker terbanyak dengan presentase 38%.
5. Bisa Mengendalikan SATELIT
Seorang warga negara Indonesia bernama Jim Geovedi yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) ini sempat menjadi perbincangan dunia, karena kemampuannya yang dapat mengubah arah satelit sesuai keinginannya.
Kemampuan hacker asal Indonesia ini telah diakui secara internasional.
Bahkan ia pernah mengatakan, ia dapat mengendalikan internet di seluruh dunia jika ia mau.
6. Perang Hacker
Ternyata, pada 2013 lalu, para hacker Indonesia pernah berperang melawan hacker asal Australia.
Berawal dari hacker Australia yang mencuri ratusan nomor kartu kredit dalam sebuah website, dan menariknya, terdapat beberapa nama orang Indonesia yang menjadi korban.
Sehingga hacker Indonesia langsung bertindak, tidak tanggung-tanggung, 178 website Australia berhasil diobrak abrik.
Alasannya tentu karena nggak terima websitenya diacak-acak para hacker asal Australia ini.
Hingga akhirnya, hacker Australia menyerah dan memohon lewat video yang diunggah di YouTube agar Indonesia berhenti melakukan serangan hacking-nya.
Itulah salah satu dari sekian banyak fakta mengenai kehebatan para hacker Indonesia yang tidak bisa dipandang sebelah mata,.
Andaikan di negara kita ini bisa lebih mengapresiasi tentang keberadaan mereka, pastinya bisa anda semua banyangkan betapa kuat dan hebatnya negara kita ini, yang pastinya meminimalisasikan kegiatan mereka yang berbenturan dengan CyberCrime dengan memberikan mereka wadah yang benar.
Joevana DSI
WASPADA bila terima pesan WHATSAPP seperti Ini
Para pengguna WhatsApp dihimbau untuk berhati-hati. Pasalnya, kini beredar pesan berisi bug pada aplikasi chatting ini yang dapat merusak smartphone.
Dikutip dari Phone Arena, Sabtu (12/5/2018), pesan spam yang beredar adalah "This is very Interesting! ...Read More" ditambah dengan emoji tertawa hingga mengeluarkan air mata. Masalah akan terjadi setelah si penerima tidak sengaja menekan pesan tersebut.
Di dalam pesan tersebut terdapat simbol tersembunyi di antara spasi yang mana berupa malware. Bila ditekan dapat menyerang sistem dari perangkat, akibatnya smartphone Android maupun iOS crash dan bahkan bootloop,
Kemudian ada juga pesan yang berisi suruhan untuk mengetuk bagian pesan bergambar titik hitam besar. Apabila si penerima tidak sengaja mengetuk titik hitam tersebut --dikenal dengan istilah black dot of death-- akan mengubah teks menjadi html, yang berarti data pengguna telah berhasil dicuri dan akan membuat smartphone hang.
Upaya konfirmasi kepada pihak WhatsApp akan hal ini masih terus dilakukan oleh para pengguna. Sejauh ini belum ada tanggapan dan belum diketahui berapa lama waktu yang diperlukan pihak WhatsApp untuk menyelesaikan masalah ini. Sembari menunggu, jika mendapatkan pesan seperti itu, baiknya diabaikan saja demi mencegah kerusakan ponsel.
winnetnews.com
Motif Hacker Lebih Banyak Incar UANG
Pemerintah terus memantau dunia siber dalam negeri, termasuk aktifitas para peretas alias hacker. Dari monitoring ini, instansi terkait juga memiliki berbagai data tentang modus para hacker yang motifnya finansial alias uang.
Deputi Bidang Pengamanan dan Persandian Badan Siber Sandi Negara (BSSN) Brigjen (Marinir) Suharyanto mengungkapkan pemerintah sangat konsen pada keamanan dunia siber nasional.
Untuk, katanya, BSSN bersama pemangku kepentingan terkait terus memantau seluruh laporan terkait dengan kejahatan atau aktifitas yang bisa mengganggu kenyamanannya.
“Kami menyoroti penting kesadaran keamanan informasi. Ada banyak data dari dunia siber, termasuk alasan hacker melakukan aksinya lebih banyak ke finansial (uang),” jelas Suharyanto dalam acara Deklarasi HKKI di Jakarta, Rabu (7/3/2018).
Dia juga mengatakan masyarakat Indonesia semakin melek internet. Tak kurang 54% penduduk atau 143,26 juta jiwa WNI merupakan pengguna internet.
Dari jumlah tersebut, sekitar 89,35% beraktifitas melalui chatting di medsos. Sedangkan sektor perbankan menempati posisi penggunaan internet terendah dengan angka 7,39%.
“Langkah yang perlu diterapkan adalah melakukan edukasi ke masyarakat supaya lebih mengerti keamanan informasi,” imbuh dia.
Salain itu, komunitas diharapkan bisa memberikan kontribusi ke pemerintah dan institusi terkait untuk keamanan dunia siber dan penyebaran berita bohong alias hoax.
Ketua Umum Forum Nasional Bhineka Tunggal Ika Saiful menambahkan Bahwa era informasi dan komunikasi ini harus dibangun dengan mendidik untuk membangun kebajikan, bukan menebar keburukan.
“Jika produksi kebohongan terus diulang, dalam teori komunikasi, ini akan menjadi kebenaran atau realitas. Semua hoax perlu tabayun, perlu klarifikasi,” katanya.
telset.id
Ada yang Bobol Microsoft! 5 Hacker Cilik Ini Memiliki Temuan yang Menakjubkan
Umumnya, HACKER selalu lekat dengan hal negatif dan biasanya dilakukan oleh orang-orang dewasa yang tergolong cerdas. Namun, siapa sangka jika anak kecil pun mampu me
njadi hacker. Bahkan bukannya membuat kerusakan, beberapa hacker cilik ini malah membuat temuan menakjubkan yang jarang dilakukan oleh anak seusianya.
Ada yang Bobol Microsoft !!! 5 Hacker Cilik Ini Memiliki Temuan yang Menakjubkan
1. Kristoffer Von Hassel
Baru berusia 5 tahun, hacker berbakat asal San Diego, Amerika Serikat ini sudah mampu menerobos keamanan Microsoft lho! Ia berhasil mengakses video game yang dikunci menggunakan sistem keamanan Microsoft pada Xbox milik ayahnya, Robert. Akhirnya, Robert pun segera melaporkannya pada Microsoft dan perusahaan tersebut langsung bertindak dengan memperbaiki keamanannya menjadi lebih baik.
2. Zora Ball
Zora telah diakui sebagai pembuat aplikasi termuda di dunia, tepatnya pada tahun 2012. Ia juga diundang untuk berpartisipasi dalam acara komunitas pengembang aplikasi, FATE Bootsrap Expo, milik University of Pennsylvania. Meski acara tersebut diperuntukkan bagi anak-anak berusia 12 tahun, Zola yang baru menginjak usia 7 tahun tetap bisa mengkutinya karena ia pernah membuat aplikasi bernama "Ball". "Ball" adalah aplikasi untuk anak-anak berusia 7 hingga 12 tahun yang dapat meningkatkan kemampuan matematis anak usia tersebut.
3. Zach Marks
Zach Marks adalah anak yang mampu membuat sebuah jejaring sosial khusus anak-anak bernama "Grom Social". Jejaring sosial tersebut juga memiliki fitur gaming, entertainment, dan health and fitness. "Gram Social" juga memiliki forum yang berisikan anti kekerasan, penyalahgunaan obat, dan anti rokok. Aplikasi ini berhasil meraih 2000 pengunjung dan sebanyak 6000 halaman diakses setiap harinya pada tahun 2012.
4. Steven Goncales Jr.
Waktu menginjak usia 12 tahun, Steven mengidap penyakit Myleogenous Leukimia yang mungkin dapat merenggut nyawanya secara tiba-tiba. Dokter pun menyebutkan bahwa hidupnya tak lama lagi. Namun, hal tersebut sama sekali tidak membuatnya gentar sehingga ia mampu melewati masa kritisnya dalam 100 hari, bahkan ia mampu menciptakan sebuah game sendiri. Game yang bernama "Play Againts Cancer" ini bercerita tentang seorang tokoh superhero yang berperan melawan sel kanker yang diilustrasikan sebagai monster hijau.
5. Santiago Gonzales
Santiago Gonzales berhasil menciptakan aplikasi bagi perangkat iOs ketika usianya baru menginjak 14 tahun. Terdapat 15 aplikasi yang berasal dari kategori berbeda-beda, mulai dari game hingga edukasi. Game "Super Slide Puzzle" dan aplikasi edukasi "Space Solar System" menjadi yang paling populer untuk anak seusianya.
Farid Anzori
Farid Anzori
Menguak Misteri Sekolah Intelijen yang Ditempa Secara Rahasia
![]() |
| Dunia intelijen yang serba rahasia |
Di dalam kerahasiaan tinggi itu pula para calon anggota tim “James Bond” Indonesia ini menjalani pendidikannya.
Intelektualitas lebih utama.
Pada zaman ini, mencari alamat sebuah sekolah atau institusi pendidikan bukanlah perkara sulit.
Cukup buka buku telepon atau menjelajah di internet. Cling! Semua informasi bisa didapat.
Lain ceritanya kalau yang dicari adalah sekolah calon agen rahasia. Tak ada nomor telepon, demikian juga alamat.
Begitu berhasil mendapat nomor kontak, mencari lokasi sekolah tersebut menjadi pekerjaan berikutnya.
Di lokasi, petunjuknya pun hanya sebuah gapura besar bertuliskan “Selamat Datang” di tepi jalan di daerah Sentul Selatan, Bogor, Jawa Barat.
Gapura yang menjadi jalan masuk tersebut dibatasi oleh hutan kecil di sebelah kiri dan tembok memanjang setinggi dua meter di sebelah kanannya.
Tembok tersebut mengarah ke sebuah gerbang. Lagi-lagi tanpa petunjuk apa pun.
Hanya ada beberapa CCTV dan sebuah pos pengamanan yang dijaga oleh dua orang berseragam militer.
Setiap tamu yang berkunjung ke sana, kedua penjaga tersebut tanpa basa-basi langsung meminta ponsel dan kamera untuk disimpan di pos pengamanan.
Di balik gerbang tampak beberapa bangunan berdiri tidak beraturan sesuai kontur tanah.
Sebuah logo, dengan gambar garuda di bagian tengahnya, terlihat di salah satu gedung.
Di sekeliling logo tersebut terdapat tulisan: Sekolah Tinggi Intelijen Indonesia (STIN).
Seolah menjadi petunjuk bahwa bangunan tersebut merupakan tempat para agen rahasia Indonesia dididik.
Prediksi masa depan
Didirikan pada 2004 oleh Badan Intelijen Negara (BIN) yang saat itu dikepalai oleh A.M. Hendropriyono, STIN diharapkan mampu menjadi pemasok SDM bagi BIN.
Khususnya untuk menjadi penerus para agen rahasia Indonesia pada 10-15 tahun mendatang.
Sebenarnya BIN juga merekrut para lulusan perguruan tinggi atau orang-orang dari instansi-instansi tertentu, contoh militer.
Namun, menurut Ketua STIN, Tri Yoga Susilo, secara kuantitas jumlahnya tidak bisa memenuhi kebutuhan SDM.
Selain itu standarnya juga berbeda dengan STIN.
“Misalnya, keseimbangan antara kemampuan inteligensia dan fisik,” ujar Tri Yoga.
Dulu intelijen Indonesia hanya membutuhkan individu yang kuat, mampu membuntuti orang, dan bisa bertahan dalam segala macam kondisi.
“Sekarang kita butuh intelijen yang juga mampu menganalisa dan memprediksi yang akan terjadi pada masa mendatang. Ini sesuai dengan slogan kita, yaitu Cendikia Waskita,” tambah Wahyudi Adisiswanto, Pembantu Ketua III STIN.
Lama belajar di STIN empat tahun. Dalam kurun itu, para calon agen rahasia akan melahap dua jenis pelajaran, yaitu pelajaran yang umum diterima di perguruan-perguruan tinggi seperti ilmu ekonomi, sosial, politik, hukum, dan sejarah (diberikan pengajar dari luar STIN) serta muatan lokal (diberikan pengajar dari dalam STIN).
“Tentunya ini bukan muatan lokal biasa. Ini muatan lokalnya kita, ya, ilmu keintelijenan,” kata Wahyudi, Pembantu Ketua I STIN.
Penguasaan bahasa asing yang cas cis cus, menjadi syarat mutlak.
Mahasiswa STIN wajib menguasai satu bahasa asing, selain bahasa Inggris.
Pilihannya bahasa Arab, Mandarin, Jepang, atau Prancis.
Semua harus dipilih sejak awal perkuliahan.
Mahasiswa juga dilatih fisiknya, meski tidak setiap saat dilakukan.
Sebelum berkuliah di STIN, mereka sudah dilatih terlebih dahulu di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus), Batujajar, Jawa Barat, selama sebulan.
Ada pula bekal kemampuan bela diri, karate dan pencak silat.
“Fokusnya bukan untuk menyerang, tapi untuk menghindar,” tegas Adisiswanto.
Hal yang sama juga diterapkan dalam penggunaan senjata api.
Mereka hanya belajar menggunakan senjata di lapangan tembak milik STIN.
“Dalam praktiknya, kita jarang menggunakan senjata api dan lebih memilih menyimpannya di rumah. Bahkan pistol saya saja sampai karatan,” Adisiswanto bercerita.
Pria mendominasi
Dalam proses kuliah, keseimbangan antara teori dan praktik dijaga betul.
Terdapat dua jenis praktik.
Pertama praktik kering berupa simulasi dengan sasaran semu, misalnya mewawancarai teman sendiri.
Kedua, praktik basah berupa terjun langsung ke lapangan.
Saat praktik inilah keahlian mereka sebagai intelijen benar-benar diasah.
“Ketika operasi buka-buka buku dulu, ‘kan tidak mungkin,” papar Tri Yoga.
Setiap hari jadwal perkuliahan berlangsung pada pukul 08.00– 16.00, sedangkan Sabtu hanya setengah hari.
“Jenuh juga ‘kan kalau setiap hari di gunung,” jelas Wahyudi.
Karena akses dari STIN ke pusat kota terdekat cukup sulit, maka para mahasiswa yang ingin berlibur akan diantar dengan kendaraan milik STIN.
Selain gedung kuliah, gedung administrasi, lapangan olahraga, baik indoormaupun outdoor, serta lapangan tembak; STIN juga menyediakan fasilitas asrama putra dan putri.
Asrama putra empat lantai dan semuanya penuh.
Sementara asrama putri yang berdaya tampung tiga lantai hanya satu lantai yang terisi.
Komposisi siswa STIN memang didominasi pria.
Untuk angkatan terakhir saja, perbandingannya 69 putra dan 24 putri.
Gelar yang akan disandang ketika lulus kelak adalah Sarjana Intelijen (S.In.).
Tapi tentunya gelar ini jarang atau bahkan tidak akan pernah mereka catat dalam penulisan nama mereka.
Namun, maklum saja, namanya juga agen rahasia.
Para mahasiswa ini dulunya hanya bekerja di BIN karena memang untuk saat ini STIN hanya fokus memasok SDM ke lembaga intelijen negara itu.
Namun, seiring berjalannya waktu, hal itu tidak fokus dipasok ke lembaga itu karena dunia intelijen itu luas, bukan hanya sekadar masalah security, tapi juga masalah bisnis yang menyangkut tentang kepentingan negara.
Bohongnya white lies
“Jika berhasil tidak dipuji, jika gagal dicaci maki, jika hilang tidak dicari, dan jika mati tidak ada yang mengakui.”
Begitulah kurang lebih gambaran seseorang intelijen.
Hidup penuh kerahasiaan, bahkan sejak pengumuman kelulusan.
Lembar pengumuman hanya akan diisi oleh nama-nama peserta yang tidak lulus.
Wajar jika siapapun – termasuk wartawan – dilarang mengambil foto yang memperlihatkan wajah mereka secara jelas.
Taktik untuk menyembunyikan identitas ini memang diajarkan langsung kepada para mahasiswa.
Seperti melalui kelas klandestin. Untuk menyembunyikan identitas, mereka kerap mengalihkan pembicaraan.
Dalam kondisi tertentu, bahkan bisa saja mereka berbohong dengan menyatakan dirinya kuliah di perguruan tinggi tertentu.
“Bohongnya ‘kan white lies, untuk tujuan yang baik,” tutur Wahyudi.
Keluarga juga memiliki peran penting dalam menyembunyikan identitas.
Mereka sadar bahwa kerahasiaan pendidikan penting untuk pekerjaan dan keselamatan anak mereka.
Praktik menyembunyikan identitas juga dilakukan beberapa anggota BIN lainnya, terutama mereka yang memang berperan sebagai agen operasi.
Nama mereka tidak akan ada dalam daftar pegawai BIN.
Ketika bertugas menggunakan identitas lain.
Tentunya setelah bersepakat dengan orang atau lembaga yang identitasnya “dipinjam”.
Mereka juga kerap nebeng dengan para pekerja dari profesi lain. Misalnya wartawan.
Saat wartawan yang asli meliput suatu peristiwa, bisa saja agen yang berperan sebagai wartawan ikut serta.
“Meski sama-sama di lokasi, fokus yang dia cari pasti berbeda. Sehingga produk (baca: laporan) yang dihasilkan juga berbeda. Bisa dibilang kita ngumpulin off the record-nya,” ujar Wahyudi.
Ada di mana-mana
Pada praktiknya, ilmu yang didapat di STIN belum tentu benar-benar akan diterapkan.
Sebab, intelijen adalah seni.
Kemampuan berimprovisasi sangat dibutuhkan di lapangan.
Maklum, setiap penugasan sangat berbeda.
Masing-masing memiliki situasi dan kondisi yang sangat spesifik.
Maka dalam bekerja, ada prinsip RAE (Regular-Alternative-Emergency).
Ada rencana awal (regular), rencana cadangan (alternative), dan rencana untuk menyelamatkan diri (emergency) jika berada dalam kondisi bahaya atau saat identitas akan atau sudah terbongkar.
Tidak dapat dipungkiri pula dalam dunia intelijen faktor keberuntungan sering ikut bermain.
“Tapi seni intelijen yang baik adalah selalu mengarahkan pada faktor keberuntungan tersebut,” ujar Adisiswanto.
Meski kerap menyamar dan berbohong, intelijen – khususnya BIN - tidak memiliki doktrin “menghalalkan segala cara untuk mendapatkan informasi.”
“Doktrin kita justru ‘Ada di mana-mana tapi tidak terasa.’ Jangan sampai membuat orang lain merasa sakit atau dirugikan,” lanjut Tri Yoga.
Sayangnya, untuk peralatan, BIN masih tertinggal dengan lembaga intelijen negara-negara maju.
Toh, kata Tri Yoga, itu bukan masalah besar, terutama sejak peristiwa 9/11 atau runtuhnya gedung WTC di Amerika Serikat.
Teknologi intelijen yang memakai peralatan begitu canggih ternyata masih bisa “dibobol”.
Paradigma technology intelligence yang sempat dipuja-puja akhirnya runtuh dan digantikan paradigma human intelligence.
Pengembangan manusia menjadi prioritasnya.
Dunia intelijen memang penuh trik dan kerahasiaan.
Namun Tri Yoga berharap masyarakat tidak memandang intelijen sebagai musuh, seperti yang saat ini lazim terjadi.
“Kita bekerja untuk melindungi negara dan masyarakat. Bukan untuk kepentingan penguasa saja,” ujar Tri Yoga.
Selain itu, “Kita juga bukan orang-orang aneh, kita tetap manusia biasa,” tambah Adisiswanto.
Seleksi Ketat
Sistem perekrutan STIN cukup unik. Cara yang pertama adalah dengan meminta para kepala sekolah dari sekolah-sekolah yang telah ditentukan oleh BIN (tentunya yang unggulan) untuk memberikan rekomendasi siswa-siswi yang berprestasi.
Jika sekolahnya tidak termasuk yang dipilih BIN, cara kedua yang digunakan, yaitu orangtua mengajukan surat pendaftaran anaknya ke kepala BIN.
Jadi, seorang calon siswa tidak bisa mendaftar sendiri tanpa sepengetahuan orangtuanya.
Syarat serta ujian yang dilalui cukup ketat.
Berbagai tes inteligensia, kepribadian, dan fi sik harus dilewati.
Ketatnya seleksi ini bisa terlihat dari jumlah peserta yang diterima.
Meski STIN memiliki kuota mahasiswa hingga 93 orang, baru tahun ini mereka mampu memenuhinya.
“Sebelumnya hanya mampu mencapai 50-an orang karena hanya sejumlah itulah SDM yang kita anggap layak untuk masuk STIN,” tambah Tri Yoga.
Karakter Intelijen
Rasa ingin tahu yang tinggi menjadi salah satu karakter terpenting seorang intel.
Jika hal itu dilengkapi dengan ketelitian, keuletan, dan ketangguhan dalam mencari informasi, seorang intel akan mampu mengumpulkan informasi yang banyak dan penting.
Karakter penting lainnya adalah kejujuran dan kesetiaan.
Kejujuran sangat penting untuk menjamin kebenaran informasi.
Untuk menjamin kejujuran ini, BIN kadang melakukan cross check dengan mengirimkan beberapa orang untuk suatu tugas yang sama, tentunya secara terpisah.
Sementara faktor kesetiaan sangat berkaitan dengan perannya sebagai pencari sekaligus pemegang informasi penting negara.
Faktor kesetiaan dapat menjamin informasi yang dimilikinya tidak bocor ke pihak lain.
Untuk melengkapi karakter ini, maka diperlukan sikap kontrol diri yang tinggi.
Sehingga dia tidak akan tergoda dan mudah ditipu oleh pihak-pihak lain.
intisari
Gapura yang menjadi jalan masuk tersebut dibatasi oleh hutan kecil di sebelah kiri dan tembok memanjang setinggi dua meter di sebelah kanannya.
Tembok tersebut mengarah ke sebuah gerbang. Lagi-lagi tanpa petunjuk apa pun.
Hanya ada beberapa CCTV dan sebuah pos pengamanan yang dijaga oleh dua orang berseragam militer.
Setiap tamu yang berkunjung ke sana, kedua penjaga tersebut tanpa basa-basi langsung meminta ponsel dan kamera untuk disimpan di pos pengamanan.
Di balik gerbang tampak beberapa bangunan berdiri tidak beraturan sesuai kontur tanah.
Sebuah logo, dengan gambar garuda di bagian tengahnya, terlihat di salah satu gedung.
Di sekeliling logo tersebut terdapat tulisan: Sekolah Tinggi Intelijen Indonesia (STIN).
Seolah menjadi petunjuk bahwa bangunan tersebut merupakan tempat para agen rahasia Indonesia dididik.
Prediksi masa depan
Didirikan pada 2004 oleh Badan Intelijen Negara (BIN) yang saat itu dikepalai oleh A.M. Hendropriyono, STIN diharapkan mampu menjadi pemasok SDM bagi BIN.
Khususnya untuk menjadi penerus para agen rahasia Indonesia pada 10-15 tahun mendatang.
Sebenarnya BIN juga merekrut para lulusan perguruan tinggi atau orang-orang dari instansi-instansi tertentu, contoh militer.
Namun, menurut Ketua STIN, Tri Yoga Susilo, secara kuantitas jumlahnya tidak bisa memenuhi kebutuhan SDM.
Selain itu standarnya juga berbeda dengan STIN.
“Misalnya, keseimbangan antara kemampuan inteligensia dan fisik,” ujar Tri Yoga.
Dulu intelijen Indonesia hanya membutuhkan individu yang kuat, mampu membuntuti orang, dan bisa bertahan dalam segala macam kondisi.
“Sekarang kita butuh intelijen yang juga mampu menganalisa dan memprediksi yang akan terjadi pada masa mendatang. Ini sesuai dengan slogan kita, yaitu Cendikia Waskita,” tambah Wahyudi Adisiswanto, Pembantu Ketua III STIN.
Lama belajar di STIN empat tahun. Dalam kurun itu, para calon agen rahasia akan melahap dua jenis pelajaran, yaitu pelajaran yang umum diterima di perguruan-perguruan tinggi seperti ilmu ekonomi, sosial, politik, hukum, dan sejarah (diberikan pengajar dari luar STIN) serta muatan lokal (diberikan pengajar dari dalam STIN).
“Tentunya ini bukan muatan lokal biasa. Ini muatan lokalnya kita, ya, ilmu keintelijenan,” kata Wahyudi, Pembantu Ketua I STIN.
Penguasaan bahasa asing yang cas cis cus, menjadi syarat mutlak.
Mahasiswa STIN wajib menguasai satu bahasa asing, selain bahasa Inggris.
Pilihannya bahasa Arab, Mandarin, Jepang, atau Prancis.
Semua harus dipilih sejak awal perkuliahan.
Mahasiswa juga dilatih fisiknya, meski tidak setiap saat dilakukan.
Sebelum berkuliah di STIN, mereka sudah dilatih terlebih dahulu di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus), Batujajar, Jawa Barat, selama sebulan.
Ada pula bekal kemampuan bela diri, karate dan pencak silat.
“Fokusnya bukan untuk menyerang, tapi untuk menghindar,” tegas Adisiswanto.
Hal yang sama juga diterapkan dalam penggunaan senjata api.
Mereka hanya belajar menggunakan senjata di lapangan tembak milik STIN.
“Dalam praktiknya, kita jarang menggunakan senjata api dan lebih memilih menyimpannya di rumah. Bahkan pistol saya saja sampai karatan,” Adisiswanto bercerita.
Pria mendominasi
Dalam proses kuliah, keseimbangan antara teori dan praktik dijaga betul.
Terdapat dua jenis praktik.
Pertama praktik kering berupa simulasi dengan sasaran semu, misalnya mewawancarai teman sendiri.
Kedua, praktik basah berupa terjun langsung ke lapangan.
Saat praktik inilah keahlian mereka sebagai intelijen benar-benar diasah.
“Ketika operasi buka-buka buku dulu, ‘kan tidak mungkin,” papar Tri Yoga.
Setiap hari jadwal perkuliahan berlangsung pada pukul 08.00– 16.00, sedangkan Sabtu hanya setengah hari.
“Jenuh juga ‘kan kalau setiap hari di gunung,” jelas Wahyudi.
Karena akses dari STIN ke pusat kota terdekat cukup sulit, maka para mahasiswa yang ingin berlibur akan diantar dengan kendaraan milik STIN.
Selain gedung kuliah, gedung administrasi, lapangan olahraga, baik indoormaupun outdoor, serta lapangan tembak; STIN juga menyediakan fasilitas asrama putra dan putri.
Asrama putra empat lantai dan semuanya penuh.
Sementara asrama putri yang berdaya tampung tiga lantai hanya satu lantai yang terisi.
Komposisi siswa STIN memang didominasi pria.
Untuk angkatan terakhir saja, perbandingannya 69 putra dan 24 putri.
Gelar yang akan disandang ketika lulus kelak adalah Sarjana Intelijen (S.In.).
Tapi tentunya gelar ini jarang atau bahkan tidak akan pernah mereka catat dalam penulisan nama mereka.
Namun, maklum saja, namanya juga agen rahasia.
Para mahasiswa ini dulunya hanya bekerja di BIN karena memang untuk saat ini STIN hanya fokus memasok SDM ke lembaga intelijen negara itu.
Namun, seiring berjalannya waktu, hal itu tidak fokus dipasok ke lembaga itu karena dunia intelijen itu luas, bukan hanya sekadar masalah security, tapi juga masalah bisnis yang menyangkut tentang kepentingan negara.
Bohongnya white lies
“Jika berhasil tidak dipuji, jika gagal dicaci maki, jika hilang tidak dicari, dan jika mati tidak ada yang mengakui.”
Begitulah kurang lebih gambaran seseorang intelijen.
Hidup penuh kerahasiaan, bahkan sejak pengumuman kelulusan.
Lembar pengumuman hanya akan diisi oleh nama-nama peserta yang tidak lulus.
Wajar jika siapapun – termasuk wartawan – dilarang mengambil foto yang memperlihatkan wajah mereka secara jelas.
Taktik untuk menyembunyikan identitas ini memang diajarkan langsung kepada para mahasiswa.
Seperti melalui kelas klandestin. Untuk menyembunyikan identitas, mereka kerap mengalihkan pembicaraan.
Dalam kondisi tertentu, bahkan bisa saja mereka berbohong dengan menyatakan dirinya kuliah di perguruan tinggi tertentu.
“Bohongnya ‘kan white lies, untuk tujuan yang baik,” tutur Wahyudi.
Keluarga juga memiliki peran penting dalam menyembunyikan identitas.
Mereka sadar bahwa kerahasiaan pendidikan penting untuk pekerjaan dan keselamatan anak mereka.
Praktik menyembunyikan identitas juga dilakukan beberapa anggota BIN lainnya, terutama mereka yang memang berperan sebagai agen operasi.
Nama mereka tidak akan ada dalam daftar pegawai BIN.
Ketika bertugas menggunakan identitas lain.
Tentunya setelah bersepakat dengan orang atau lembaga yang identitasnya “dipinjam”.
Mereka juga kerap nebeng dengan para pekerja dari profesi lain. Misalnya wartawan.
Saat wartawan yang asli meliput suatu peristiwa, bisa saja agen yang berperan sebagai wartawan ikut serta.
“Meski sama-sama di lokasi, fokus yang dia cari pasti berbeda. Sehingga produk (baca: laporan) yang dihasilkan juga berbeda. Bisa dibilang kita ngumpulin off the record-nya,” ujar Wahyudi.
Ada di mana-mana
Pada praktiknya, ilmu yang didapat di STIN belum tentu benar-benar akan diterapkan.
Sebab, intelijen adalah seni.
Kemampuan berimprovisasi sangat dibutuhkan di lapangan.
Maklum, setiap penugasan sangat berbeda.
Masing-masing memiliki situasi dan kondisi yang sangat spesifik.
Maka dalam bekerja, ada prinsip RAE (Regular-Alternative-Emergency).
Ada rencana awal (regular), rencana cadangan (alternative), dan rencana untuk menyelamatkan diri (emergency) jika berada dalam kondisi bahaya atau saat identitas akan atau sudah terbongkar.
Tidak dapat dipungkiri pula dalam dunia intelijen faktor keberuntungan sering ikut bermain.
“Tapi seni intelijen yang baik adalah selalu mengarahkan pada faktor keberuntungan tersebut,” ujar Adisiswanto.
Meski kerap menyamar dan berbohong, intelijen – khususnya BIN - tidak memiliki doktrin “menghalalkan segala cara untuk mendapatkan informasi.”
“Doktrin kita justru ‘Ada di mana-mana tapi tidak terasa.’ Jangan sampai membuat orang lain merasa sakit atau dirugikan,” lanjut Tri Yoga.
Sayangnya, untuk peralatan, BIN masih tertinggal dengan lembaga intelijen negara-negara maju.
Toh, kata Tri Yoga, itu bukan masalah besar, terutama sejak peristiwa 9/11 atau runtuhnya gedung WTC di Amerika Serikat.
Teknologi intelijen yang memakai peralatan begitu canggih ternyata masih bisa “dibobol”.
Paradigma technology intelligence yang sempat dipuja-puja akhirnya runtuh dan digantikan paradigma human intelligence.
Pengembangan manusia menjadi prioritasnya.
Dunia intelijen memang penuh trik dan kerahasiaan.
Namun Tri Yoga berharap masyarakat tidak memandang intelijen sebagai musuh, seperti yang saat ini lazim terjadi.
“Kita bekerja untuk melindungi negara dan masyarakat. Bukan untuk kepentingan penguasa saja,” ujar Tri Yoga.
Selain itu, “Kita juga bukan orang-orang aneh, kita tetap manusia biasa,” tambah Adisiswanto.
Seleksi Ketat
Sistem perekrutan STIN cukup unik. Cara yang pertama adalah dengan meminta para kepala sekolah dari sekolah-sekolah yang telah ditentukan oleh BIN (tentunya yang unggulan) untuk memberikan rekomendasi siswa-siswi yang berprestasi.
Jika sekolahnya tidak termasuk yang dipilih BIN, cara kedua yang digunakan, yaitu orangtua mengajukan surat pendaftaran anaknya ke kepala BIN.
Jadi, seorang calon siswa tidak bisa mendaftar sendiri tanpa sepengetahuan orangtuanya.
Syarat serta ujian yang dilalui cukup ketat.
Berbagai tes inteligensia, kepribadian, dan fi sik harus dilewati.
Ketatnya seleksi ini bisa terlihat dari jumlah peserta yang diterima.
Meski STIN memiliki kuota mahasiswa hingga 93 orang, baru tahun ini mereka mampu memenuhinya.
“Sebelumnya hanya mampu mencapai 50-an orang karena hanya sejumlah itulah SDM yang kita anggap layak untuk masuk STIN,” tambah Tri Yoga.
Karakter Intelijen
Rasa ingin tahu yang tinggi menjadi salah satu karakter terpenting seorang intel.
Jika hal itu dilengkapi dengan ketelitian, keuletan, dan ketangguhan dalam mencari informasi, seorang intel akan mampu mengumpulkan informasi yang banyak dan penting.
Karakter penting lainnya adalah kejujuran dan kesetiaan.
Kejujuran sangat penting untuk menjamin kebenaran informasi.
Untuk menjamin kejujuran ini, BIN kadang melakukan cross check dengan mengirimkan beberapa orang untuk suatu tugas yang sama, tentunya secara terpisah.
Sementara faktor kesetiaan sangat berkaitan dengan perannya sebagai pencari sekaligus pemegang informasi penting negara.
Faktor kesetiaan dapat menjamin informasi yang dimilikinya tidak bocor ke pihak lain.
Untuk melengkapi karakter ini, maka diperlukan sikap kontrol diri yang tinggi.
Sehingga dia tidak akan tergoda dan mudah ditipu oleh pihak-pihak lain.
intisari
AKSI PEMBAJAK BOBOL MILIYARAN RUPIAH
Surat Elektronik atau EMAIL adalah saluran komunikasi sekaligus identitas utama di dunia maya. Tak hanya komunikasi personal, email juga dijadikan saluran komunikasi utama bagi perusahaan dengan bisnis lintas negara.
Para peretas pembajak email hingga kini masih berkeliaran. Mereka terus berkeliaran. Mereka terus berusaha menyusup kesaluran komunikasi perusahaan-perusahaan berskala besar, menyincar miliyaran rupiah transaksi bisnis antar perusahaan kelas kakap.
liputan6.com
Ternyata Begini Cara HACKER Pantau WhatsApp Kamu
WhatsApp merupakan salah satu aplikasi chatting yang saat ini paling banyak digunakan. Selain mudah dan praktis, berbagai macam fitur seru di WhatsApp juga akan dapat Anda manfaatkan. Karena itu ada banyak orang yang suka dan betah menggunakan WhatsApp sebagai media chatting hariannya.
Akan tetapi sama halnya dengan media sosial yang lain, WhatsApp juga rawan dengan serangan para hacker. Bahkan ada banyak hacker yang bisa membajak dan ngehack WhatsApp Anda. Kalau Anda ingin tahu seperti apa cara hacker dalam memantau WhatsApp Anda, berikut caranya yang akan kami bongkar khusus untuk Anda! Yuk simak dulu informasinya!
Cara Hacker Pantau WhatsApp Pengguna
Menggunakan OTP SMS
Didalam proses verifikasi akun WhatsApp, Anda bisa menggunakan suatu prosedur yang bernama OTP SMS. Hacker cukup mengakses OTP SMS ini dengan menggunakan aplikasi spyware. Setelah nantinya sukses, untuk selanjutnya hacker bisa dengan bebas mengakses aktivitas apapun di WhatsApp Anda. Agar bisa lebih aman dari ancaman yang satu ini, sangat disarankan Anda menggunakan WhatsApp tanpa nomor.
Menggunakan aplikasi mata – mata
Hacker terkadang juga butuh bantuan pihak lain. Salah satunya bantuan aplikasi mata – mata. Salah satu aplikasi mata – mata yang biasanya digunakan para hacker untuk memata – matai aktivitas akun suatu WhatsApp adalah WhatsDog. Tidak hanya bisa memantau saja akan tetapi aplikasi yang satu ini juga bisa Anda gunakan untuk melakukan modifikasi pesan. Super canggih lho!
Ekstrak pesan WhatsApp
WhatsApp menyediakan opsi untuk Anda melakukan backup semua pesan atau chat. Dengan mudahnya nantinya hacker bisa membuat backup chat WhatsApp dengan menggunakan akun emailnya sendiri. Otomatis, para hacker juga bisa mengakses dan membaca semua pesan yang berlalu lalang di WhatsApp Anda.
WhatsApp dari web
Untuk mengakses yang seperti ini yang dibutuhkan hanya memindai QR code dari smartphone. Hacker tentu bisa dengan mudah melakukan pemindaian dan sekali mendapat akses mereka bisa membaca, mengirim dan memodifikasi pesan di WhatsApp dengan mudah.
Begitulah bagaimana cara hacker pantau WhatsApp Anda. Jadi baiknya Anda berhati – hati selalu ketika menggunakan WhatsApp. Siapa tahu WhatsApp Anda sedang dipantau orang dimana Anda tidak tahu akan hal itu.
www.ohayo.co.id
www.ohayo.co.id
TAKJUB Banget! 5 Kasus Hacking di Indonesia Yang Mendunia
Nggak dapat dipungkiri, kalau bicara soal hacking Indonesia termasuk juara. Bahkan Indonesia juga memiliki hacker yang paling ditakuti di dunia.
Berbicara soal prestasi di dunia hacking, tentu nggak didapat secara instan. Kira-kira kasus hacking apa saja yang membuat Indonesia terkenal? Yuk simak 5 kasus hacking di Indonesia yang mendunia berikut...
5 Kasus Hacking di Indonesia Yang Mendunia
Satelit merupakan salah satu teknologi paling canggih di dunia saat ini. Mengejutkannya, rupanya ada orang Indonesia yang mampu ngehack. Orang tersebut bernama Jim Geovedi, tercatat ia sudah menghack satelit milik Indonesia dan Cina. Uniknya, ternyata dia hanya lulusan SMA loh.
Sekitar dua bulan lalu pada acara SEA Games 2017 yang diselenggarakan di Malaysia, terdapat kesalahan dimana bendera Indonesia terbalik. Karena masalah ini, tercatat ratusan situs milik Malaysia mulai dari pemerintahan hingga komersil dihack oleh Indonesia.
Baca selengkapnya: Bendera Terbalik, Ratusan Situs Malaysia di Hack Indonesia!
Hubungan Indonesia dengan Australia pernah memanas, alasannya karena Australia dikabarkan menyadap komunikasi Indonesia di tahun 2013 lalu. Karena permasalahan ini, akhirnya membuat hacker Indonesia turun tangan. Tercatat ratusan situs milik Australia dihack, termasuk situs badan intelejen Australia www.asio.gov.au akhirnya down.
4. Peretasan Situs Telkomsel Karena Mahal
Kasus yang tergolong cukup lucu, dimana hacker protes terkait harga paket internet Telkomsel yang mahal. Lucunya lagi, ternyata masyarakat justru mendukung tindakan hacker dengan mengiyakan bahwa paket internet Telkomsel mahal. Bagaimana pendapat kamu, apakah memang mahal?
Baca selengkapnya: Waduh, Situs Telkomsel Dihack Gara-gara Kuota Mahal!
5. Peretasan Situs KPU Pada Pilpres 2014
Pada saat Pilpres kemarin, muncul banyak isu bahwa situs milik KPU dihack. Jaka pastikan itu hoax. Tapi pada tahun 2004 lalu, hacker berkode nama Xnuxer ternyata mampu menembus situs milik KPU. Alhasil lalu dia mengganti nama-nama partai dengan nama-nama buah.
Akhir Kata
Terbukti banget bukan, kalau bicara urusan hacking rupanya Indonesia juara. Bagaimana pendapat anda kasus hacking paling mendunia yang mana?
jalantikus.com
Pada saat Pilpres kemarin, muncul banyak isu bahwa situs milik KPU dihack. Jaka pastikan itu hoax. Tapi pada tahun 2004 lalu, hacker berkode nama Xnuxer ternyata mampu menembus situs milik KPU. Alhasil lalu dia mengganti nama-nama partai dengan nama-nama buah.
Akhir Kata
Terbukti banget bukan, kalau bicara urusan hacking rupanya Indonesia juara. Bagaimana pendapat anda kasus hacking paling mendunia yang mana?
jalantikus.com
























